Rabu, 15 Januari 2014

JURNAL 2

CREDIT UNION IMPACT ON WOMEN EMPOWERMENT IN KALIMANTAN

(Credit Union Dampak Terhadap Pemberdayaan Perempuan dikalimantan)

JURNAL 2

Akses perempuan terhadap layanan keuangan mikro telah meningkat secara substansial dalam 10 tahun terakhir, tetapi kemampuan untuk mengakses lebih terbatas karena berbagai masalah yang berkaitan dengan jenis kelamin perempuan. Sudan telah membuktikan keberhasilan pemberdayaan perempuan, baik di bidang sosial, ekonomi dan budaya. Tujuan Untuk meninjau manfaat dari Credit Union dalam meningkatkan situasi penerima manfaat (perempuan pedesaan) dari sudut pandang ekonomi, sosial, budaya dan psikologis membahayakan. Menilai faktor kunci keberhasilan dalam menerapkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. 

Keberadaan Credit Union (CU) telah mampu memperdaya perempuan dalam kegiatan ekonomi keluarga, di mana sebagian besar kredit yang diterima oleh perempuan terutama di daerah pedesaan telah digunakan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan bisnis mereka, baik bisnis baru atau bisnis lama, yang terlihat dari pendapat mereka bahwa ini harus meningkatkan pendapatan .

Kata kunci: serikat kredit, pemberdayaan perempuan, entepreneurship 

Dampak yang sangat positif dari kredit mikro, manfaat utama dari kredit mikro adalah: (a) meningkatkan pendapatan keluarga dan kualitas hidup, dan sebagai perempuan mewakili 90% dari peminjam, kontribusi mereka adalah penting, (b) mempromosikan kebiasaan tabungan antara peminjam perempuan miskin (c) telah meningkatkan kesadaran dan perempuan diberdayakan untuk berkontribusi kegiatan sosial-ekonomi yang beragam, dan (d) telah mendorong perempuan untuk mengambil peran aktif dalam politik Bangladesh. 

Ruang lingkup dari serikat kredit, terdapat 3 elemen di dalamnya. (1) Perbankan, jika harian perbankan dan tabungan produk di dunia yang dikenal deposito (deposito), maka kasus yang sama dengan serikat kredit. Bahkan dalam serikat kredit mampu memberikan bunga yang lebih besar dari bank. Secara umum, serikat kredit yang bernaung di bawah Badan Koordinasi Credit Union Credit Union Kalimantan Tengah dan Equatorial memberikan penghematan pa bunga sampai 14%, (2) Koperasi adalah napas utama lebaga bernama credit union. Unsur-unsur dan nilai-nilai yang terkandung dalam koperasi begitu kental di organisasi serikat kredit. (3) Asuransi, polish koperasi diri menjadi lembaga yang mengusung nilai-nilai dan unsur-unsur yang terkandung dalam asuransi. Keprihatinan lembaga dalam melindungi anggotanya, baik dalam bentuk deposito atau pinjaman. Selain itu, secara internal menciptakan produk serupa yang dikenal sebagai solidaritas. 
(Http :/ / zokeher.wordpress.com / RUANG-lingkup-credit-union) 

Menurut teori bahwa serikat kredit atau credit union, atau biasa disingkat CU adalah lembaga keuangan yang bergerak di bidang simpan pinjam yang dimiliki dan dikelola oleh anggotanya, dan yang bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bagi anggotanya sendiri. Credit Union memiliki tiga prinsip utama yaitu: http://id.wikipedia.org/wiki/Koperasi_kredit 
1) prinsip self-help (tabungan hanya dari anggotanya); 
2) prinsip teman-teman setia (pinjaman hanya diberikan kepada anggota) dan 
3) prinsip pendidikan dan kesadaran (membangun karakter adalah yang terpenting, hanya karakter yang baik yang dapat menerima pinjaman). 
Konsep CU adalah orang-orang yang menjadi anggota harus membayar iuran, tabungan, dan tabungan. Menyimpan itu akan menjadi jaminan untuk meminjam jumlah yang masih wajar. Yang mungkin meminjam hanya anggota, tidak boleh orang luar.
(Tony Kusmiran Credit Union Ala Indonesia Edisi 605 | 22 Oktober 2007) 

Aspek partisipatif dan adil meliputi (1) memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses ke sumber daya dan pelayanan sosial, (2) tentang hak-hak dasar, (3) mengembangkan kesamaan, (4) menguntungkan, (5) sehubungan dengan keinginan ataukebutuhan individu untuk berkontribusi untuk kebaikan bersama, (6) memanfaatkan secara optimal adil tetapi apa yang telah diciptakan di dunia ini, (7) lebih dari karakter moral hukum, dan (8) berkaitan erat dengan kebutuhan manusia pada khususnya. 

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI 
Keberadaan Credit Union (CU) telah mampu memperdaya perempuan dalam kegiatan ekonomi keluarga, di mana sebagian besar kredit yang diterima oleh perempuan terutama di daerah pedesaan telah digunakan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan bisnis mereka, baik bisnis baru atau bisnis lama, yang terlihat dari pendapat mereka bahwa ini ini harus meningkatkan pendapatan. Hasil peningkatan pendapatan digunakan untuk mengembangkan bisnis kembali, untuk meningkatkan biaya sekolah anak-anak sehingga meningkatkan tingkat pendidikan dan standar kesejahteraan, pembelian perabot rumah tangga, menambah pembelian kendaraan yang digunakan untuk memfasilitasi upaya mereka, untuk merenovasi rumah dan sebagian kecil digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau konsumtif.
Dengan menjadi anggota CU yang mereka benar-benar merasakan pengaruh positif yang merasa lebih percaya diri karena mereka merasa bisa membantu kebutuhan keluarga atau untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Demikian juga, keterbukaan terhadap orang lain juga meningkat karena mereka merasa lebih berpengetahuan dan kurangnya informasi yang ditinggalkan oleh orang lain.
Faktor kunci keberhasilan dalam menerapkan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan adalah faktor ekonomi, faktor sosial, faktor psikologis dan faktor kewirausahaan.


REFERENSI 

Bambang Ismawan, Peran Lembaga Keuangan Mikro Dalam Otonomi Daerah, Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel - Th. II - No 1 - Maret 2003
Besley, T. (1995) "Bagaimana kegagalan pasar membenarkan Intervensi di pasar kredit pedesaan". "Bagaimana kegagalan pasar membenarkan intervensi di pasar kredit pedesaan."
Bangladesh Institute of Development Studies (Tawaran) (1999) "Alokasi waktu perempuan di daerah pedesaan: Bangladesh Institute of Development Studies (bid) (1999)" Alokasi waktu bagi perempuan di daerah pedesaan:. Peran kredit mikro "
Komisi Pemilihan Bangladesh (BEC) (1997) Statistik terpilih Union Parishad Members, Bangladesh Komisi Pemilihan Office, Komisi Shere-Bangla Bangladesh Pemilihan (BEC) (1997) statistik terpilih Union Parishad Anggota, Kantor Komisi Pemilihan Umum Bangladesh, Shere-Bangla Nagar , Dhaka. Nagar, Dhaka.
Coleman, B. (1999) "Dampak dari pinjaman kelompok di timur laut Thailand." Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol. Coleman, B. (1999) "Dampak dari pinjaman kelompok di timur laut Thailand Vol." Jurnal pembangunan ekonomi. 60 (1) Oktober 1999: 105-141 60 (1) Oktober 1999: 105-141
Goetz, A. dan Goetz, A. dan R. Mon Gupta (1994): R. Mon Gupta (1994): "Siapa yang mengambil kredit?" Siapa yang mengambil kredit? Gender, kekuasaan dan kontrol atas penggunaan pinjaman dalam Program kredit pedesaan di Bangladesh ". Kertas kerja. Gender, kekuasaan dan kontrol atas penggunaan pinjaman dalam program kredit pedesaan di Bangladesh" kertas kerja .. Brighton, Inggris: Institut Studi Pembangunan, Universitas Sussex. Brighton, UK: Institute for Development Studies, University of Sussex.
Khandokar. Khandokar. Rumah Sakit dan Pitt, M. M (1996): "Rumah Tangga dan dampak intrahousehold dari Grameen Bank dan Program kredit ditargetkan serupa di Bangladesh". Rumah Sakit dan Pitt, M. M (1996): "Rumah Tangga dan dampak intrahousehold dari Grameen Bank dan program kredit ditargetkan serupa di Bangladesh". Makalah diskusi Bank Dunia. Makalah diskusi Bank Dunia.
Morduch. Morduch. J (1998): "Revolusi keuangan mikro". 
J (1998): "Microfinance Revolution." Mimeo, Harvard University. Mimeo, Harvard University.
Shanthi Nachiappan dan SNSoundara Rajan, Pemberdayaan Ekonomi Perempuan: Kasus Kerja Wanita Forum, India Kasus Forum Kerja Perempuan, Jurnal Perempuan International Studies Vol. 10 # 2 November 2008 10 No.2 November 2008, India
Bank Dunia (1999): Mid Term Review dari Pengentasan Kemiskinan dan Keuangan Mikro Project. : Mid-istilah penelaahan terhadap proyek Penanggulangan Kemiskinan dan Keuangan Mikro. Bank Dunia, Dhaka. Bank Dunia, Dhaka. 

JURNAL 1

Potency and the Role of Credit Union In
Poverty Alleviation Through Perspective Rural
Economic Development

(POTENSI DAN PERAN KREDIT DI PENANGGULANGAN KEMISKINAN MELALUI PEMBANGUNAN PEDESAAN PERSPEKTIF EKONOMI)
JURNAL 1
Sebuah studi empiris tentang Credit Union di daerah pertanian yang bertujuan untuk mengetahui kinerja Credit Union dalam perspektif pembangunan ekonomi pedesaan telah dilakukan di Kalimantan pada pertengahan 2010 melalui pendekatan partisipatif untuk memahami penggunaan pedesaan kelompok dan wawancara individu yang melibatkan wawancara, administrator, manajer dan pengguna Credit Union .
Pembangunan ekonomi pedesaan sebagai bagian integral dari pembangunan ekonomi nasional, keberhasilannya disumbangkan oleh banyak kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan.
Dalam kelangkaan modal jangka panjang dapat menjadi entry point dari siklus rantai kemiskinan pada masyarakat pedesaan yang sulit untuk memotong. Meskipun kemiskinan tidak dibatasi oleh aspek-aspek faktual spasial dan sktoral, namun tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar orang miskin berada di daerah pedesaan.Pemiliknya untuk mengatasi kelangkaan modal, pelaku ekonomi pedesaan biasanya mencari tambahan modal dari berbagai sumber, baik dari lembaga keuangan formal dan lembaga keuangan non-formal .
Pertumbuhan dan perkembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di Indonesia, banyak terinspirasi oleh keberhasilan Muhammad Yunus dalam pengembangan LKM di Bangladesh yang terkenal Grameen Bank (GB). Banyak orang melihat model Grameen Bank sebagai model pendekatan yang sukses dalam mengentaskan kemiskinan.
Berdasarkan bentuk umum LKM dibagi menjadi tiga yaitu: (1) lembaga formal seperti bank desa dan koperasi, (2) lembaga semi-formal seperti lembaga swadaya masyarakat, dan (3) sumber - sumber informal seperti rentenir (Wijono, 2005 ). Bank Indonesia hanya membagi LKM menjadi dua kategori, yaitu LKM bank yang nyata dan non-bank.

Data rinci yang diperlukan:
1. Profil berbagai Credit Union di Kalimantan, mulai dari jumlah (unit), posisi kredit (jumlah pelanggan dan jumlah uang) dan menyimpan posisi (jumlah pelanggan dan jumlah uang)
2. Peran potensial dan serikat kredit di Kalimantan, besarnya lembaga, jumlah penyerapan tenaga kerja, kemampuan untuk memanfaatkan sumber daya lokal, besarnya kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
3. Infrastruktur dan kondisi kelembagaan Kalimantan Credit Union yang mencakup aspek regulasi, regulator, likuiditas jaminan pengembangan, penilaian dan asosiasi.

1. Keberadaan Credit Union 
Hasil identifikasi di lapangan ada beberapa temuan bahwa ada tiga kategori Lembaga Keuangan Mikro (LKM) tumbuh, LKM perbankan, koperasi dan LKM LKM non-Bank tidak kooperatif. Masing - masing LKM menerapkan skema pinjaman yang berbeda. Bank LKM pola operasional mengikuti pendekatan perbankan konvensional, lembaga keuangan mikro koperasi menerapkan pola simpan pinjam sedangkan LKM bukan Bank Koperasi pola yang tidak operasional bervariasi.
Salah satu bentuk non-Bank LKM tidak tercermin dalam Koperasi Credit Union.Manajemen keuangan oleh Uni Credit pada dasarnya merupakan bentuk manajemen keuangan dengan sistem bergulir. Modal yang digunakan berasal dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat
.
2. Manajemen Credit Union of Faktor Kritis
Keuntungan dari usaha mikro yang telah diuji sampai saat ini adalah perlawanan terhadap guncangan krisis ekonomi, selain pengusaha mikro biasanya debitur yang patuh membayar kewajiban kredit mereka
.
3. Perspektif Credit Union Dalam Sektor Pertanian
Belajar dari keberhasilan pengelolaan Credit Union secara umum untuk diterapkan dalam membangun serikat kredit adalah sektor pertanian pada dasarnya hanya dapat dilakukan dengan mengaokomodasi beberapa pola yang telah dikembangkan untuk membuat penyesuaian yang berkaitan dengan pertanian
4. Credit Union Strategis Langkah Inisiasi
Strategi utama untuk memulai pembentukan dan pengembangan Credit Union untuk sektor pertanian di samping harus tetap didasarkan pada prinsip - prinsip operasional kelembagaan sehingga harus dilakukan melalui tahapan
.
KESIMPULAN
1. Credit Union mengakui keberadaan masyarakat memiliki peran strategis sebagai kegiatan ekonomi masyarakat perantara
2. Layanan faktual Credit Union telah menunjukkan keberhasilan, tetapi keberhasilan
masih bias dalam usaha ekonomi di luar sektor pertanian, skema kredit untuk serikat
kredit pertanian belum diberikan prioritas.

REFERENSI 
Ashari. 2008. Potensi Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dalam Pembangunan Ekonomi Pedesaan dan Kebijakan Pembangunan. Analisis Kebijakan Pertanian Volume 4 No 2: 146-164.
Budiantoro, S. 2003. Lembaga Keuangan Mikro Bill: Jangan Jauhkan Dari Lembaga Keuangan Masyarakat. Jurnal Ekonomi Rakyat. Artikel Th. Nomor II. 8.
Hendayana, Rachmat dan Bustaman, Sjahrul. 2007. Fenomena Lembaga Keuangan Mikro dalam Pembangunan Ekonomi Pedesaan Perspektif. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bogor.
Lopez, Zulkarnain. 2007. Dampak Distribusi Kredit berdasarkan Credit Union Business Kinerja Terhadap Pemberdayaan Ekonomi Petani dan Petani. Jurnal Ilmu - Ilmu Pertanian Indonesia. Edisi Khusus, No 3: 275-284.
Martowijoyo, S. 2002. Dampak Lembaga Pedesaan Terhadap Kinerja Sistem Perkreditan Bank. Jurnal Ekonomi Rakyat. Artikel Th. I No 5.
Risqi, Tom. 2003. Apakah ada kontribusi dari Kredit Mikro dalam Pemberantasan Kemiskinan. Kompas artikel surat kabar.
Sumodiningrat, G. 2003. Peran Lembaga Keuangan Mikro dalam Penanggulangan Menanggunalangi Associated Dengan Kebijakan Otonomi Daerah. Jurnal Ekonomi Pertanian. Artikel Th. Nomor II. 1.
   

KELOMPOK PROJECT SOFTSKILL


KELOMPOK PROJECT SOFTSKILL

1. Dina Fidiasari
2. Husnah
3. Yolenta flonsari

http://www.youtube.com/watch?v=TdW-qwTUJmY

Jumat, 29 November 2013

Sofskill yang harus dimiliki mahasiswa gunadarma

Sofskill apa yang harus dimiliki mahasiswa gunadarma sehingga memiliki keunggulan kompetitif??

Pengertian Soft Skill
Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)
Wikipedia memaparkan bahwa soft skills merupakan istilah sosiologis yang merujuk pada sekumpulan karakteristik kepribadian, daya tarik sosial, kemampuan berbahasa, kebiasaan pribadi, kepekaan/kepedulian, serta optimisme. Soft skills ini melengkapi hard skills- yang bisa dikatakan juga sebagai persyaratan teknis dari suatu pekerjaan.
Soft skills tersebut mencakup (a) kualitas pribadi - misalnya tanggung jawab, kepercayaan diri, kemampuan bersosialisasi, manajemen (pengendalian) diri, dan integritas atau kejujuran; dan (b) ketrampilan interpersonal, misalnya berpartisipasi sebagai anggota kelompok, mengajar (berbagi pengetahuan) ke orang lain, melayani pelanggan, kepemimpinan, kemampuan negosiasi, dan bisa bekerja dalam keragaman 
Pentingnya Soft Skill Bagi Mahasiswa
pengembangan softskills di perguruan tinggi memang harus dilakukan secara integratif dan menyeluruh. Pengembangan softskills tidak hanya sekedar memberikan pelatihan atau kursus softskills, misalnya kursus kepribadian atau teknik komunikasi saja. Sebuah perguruan tinggi idealnya mengembangkan softskill mahasiswa. Pentingnya soft skill, karena jika seseorang mempunyai karakteristik atau sifat seperti itu maka pastilah orang tersebut mempunyai daya saing yang tinggi di bursa kerja.
permasalahan klasik yang sering terdengar adalah keluhan bahwa lulusan perguruan tinggi ternyata tidak memenuhi kualifikasi yang diharapkan oleh dunia pekerjaan. Keluhannya adalah bahwa lulusan perguruan tinggi umumya memiliki karakteristik sebagai berikut :kurang tangguh, tidak jujur, cepat bosan, tidak bisa bekerja teamwork, minim kemampuan berkomunikasi lisan dan menulis laporan dengan baik.
Mahasiswa yang unggul tentu ditandai dengan kemampuan menguasai bidang kajiannya masing-masing dan kemudian juga memiliki kelebihan lain yang relevan dengan kebutuhan kehidupan dunia masyarakat dan kerjanya. Jika kita bisa menguasai bidang kajian yang kita pelajari, dan kemampuan tersebut memiliki keunggulan kompetitif, maka berarti kita telah menyumbangkan indeks kompetisi bangsa.
Oleh karena itu, mahasiswa Gunadarma harus memiliki kesadaran untuk berkompetisi di tengah kehidupan yang semakin keras ini. Jika tidak memiliki kesadaran tersebut, maka mereka akan tertinggal. Tentu tidak ada di antara kita yang sependapat bahwa tertinggal merupakan peristiwa lumrah. Semua harus berpacu dengan waktu.
Beberapa kegiatan pengembangan soft skills telah  dilakukan oleh perguruan tinggi.
Misalnya success skills telah dicanangkan oleh UGM sejak tahun 2005 untuk meningkatkan thinking skills, learning skills dan living skills.
Program ini diberikan kepada mahasiswa baru pada masa orientasi kampus.
·         Learning Skills adalah keterampilan yang digunakan agar mahasiswa selalu dapat mengembangkan diri melalui proses belajar yang berkelanjutan
·         Thinking Skills adalah keterampilan yang dibutuhkan pada saat mahasiswa berpikir untuk memecahkan masalah di kehidupan sehari-hari
·         Living skills adalah keterampilan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang pakar dalam bidang pengembangan pendidikan Christoph Hanssert dari Jerman menyarankan agar pengembangan soft skills untuk mahasiswa Indonesia dilakukan dengan cara menjalin jejaring kerja (networking) dosen Indonesia dengan dosen luar negeri yang melibatkan mahasiswa, misalnya dalam bidang penelitian. Dengan jejaring ini, mau tidak mau mahasiswa akan terpaksa berkomunikasi tulisan dengan menggunakan bahasa asing. Suatu saat mahasiswa ini difasilitasi untuk bertemu bertukar pikiran, saling menghargai pendapat, mempelajari budaya orang lain dan belajar bekerjasama dalam tim.
Masih banyak metoda yang mungkin dapat dilakukan oleh para pendidik kita untuk mahasiswanya. Untuk itu, perlu digali potensi-potensi yang ada di tiap perguruan tinggi. Kadangkala, apa yang bagus dan dapat diterapkan di satu perguruan tinggi dalam pengembangan soft skills belum tentu dapat diterapkan begitu saja di perguruan tinggi lainnya. Boleh jadi strategi dan tekniknya akan bervariasi tergantung pada visi perguruan tinggi, soft skills yang dimiliki oleh mahasiswa saat ini dan harapan pengembangan soft skills dari mahasiswa, kebutuhan soft skills para pengguna lulusan dan coach dan mentor serta sarana prasarana yang dimiliki perguruan tinggi.
Pengembangan Soft Skill di Perguruan Tinggi
Ketatnya persaingan dibursa kerja menuntut seorang calon pekerja memiliki kompetensi-kopetensi khusus agar sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa adalah calon pekerja yang akan bersaing dalam dunia kerja, dituntut untuk memiliki kompetensi khusus yang diinginkan oleh dunia kerja. Kompetensi khusus tersebut di antaranya adalah kemampuan bekerja dalam tekanan, mampu bekerjasama dalam tim, bertanggung jawab serta kemampuan lainnya yang sifatnya lebih kearah kemampuan soft skill.
Mengantisipasi hal yang seperti itu perguruan tinggi pun dituntut untuk mempersiapkan lulusannya memiliki kemampuan sebagaimana yang diinginkan oleh dunia kerja, agar alumni dari suatu perguruan tinggi dapat bersaing dengan alumni perguruan tinggi lainnya.
Mengapa pemahaman soft skill perlu diberikan kepada para mahasiswa saat ini, berdasarkan beberapa survey yang dilakukan, ada kesenjangan yang terjadi antara yang dibutuhkan di bursa kerja dan kenyataan hasil lulusan perguruan tinggi. Banyak para fresh graduate perguruan tinggi yang tidak tahan banting saat memasuki dunia kerja yang sesungguhnya.
Pemahaman mengenai Kompetensi  
Kecakapan Dasar Manusia adalah kombinasi dari pengetahuan dan ketrampilan, atau keahlian yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas. Kompetensi( Derrick Casey dalam Method and Procedure for Developing Competency Standard). Kecakapan dasar manusia merupakan  kombinasi dari pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skill) dan sikap( attitude) yang diperlukan untuk dapat melaksanakan suatu tugas.
 Tiga Kecakapan Dasar Kurt Singer :
         Kecakapan negosiasi
         Kecakapan mengelola konflik
         Kecakapan menyantuni pluralisme
Manusia juga memerlukan Kepribadian   Yang dapat dicapai melalui 3 C yaitu:
·         Conscience (nurani),
·         Compassion (kepedulian sosial),
·         Competence (kecakapan )
7 Kebiasaan untuk mengembangkan PotensiDiri ( Stephen R. Covey )
  1. Jadi proaktif
  2. Merujuk pada tujuan akhir
  3. Dahulukan yang utama
  4. Paradigma saling ketergantungan
  5. Berusaha mengerti terlebih dahulu
  6. Wujudkan sinergi/kerjasama
  7. Asah kemampuan terus - menerus
Kompetensi yang disebutkan di atas yang teraktualisasi dalam soft skill diharapkan dapat dimiliki oleh lulusan perguruan tinggi termasuk mahasiswa universitas gunadarma saat kelak mereka memasuki bursa kerja dilapangan. Selayaknya perguruan tinggi mempersiapkan kompetensi dan kemampuan yang menunjang kemampuan dan daya saing mereka di dunia kerja.

http://isailah.50webs.com/kegiatan%20kemahasiswaam.html

(center for enterpreuneurship education and development, Halifax, nova scotia, 2004).

Rabu, 27 November 2013

Mengapa lulusan / alumni univ.tinggi diindonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif / bersaing??

Mengapa lulusan / alumni univ.tinggi diindonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif / bersaing??

Keunggulan kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya.
(Setiawan, 2006).Maka ada empat kebutuhan pokok untuk sumber daya yang harus dipenuhi dalam mencapai keunggulan bersaing yang berkesinambungan yaitu:
 (1) Nilai. Dengan nilai tambah yang dimiliki akan meningkatkan keunggulan bersaing perusahaan,
(2) Keunikan diantara perusahaan sejenis dan pesaing potensial. Jika suatu perusahaan memiliki keunikan tersendiri maka akan semakin meningkat keunggulan bersaing yang dimilikinya diantara pesaing ,
 (3) Tidak dapat ditiru dengan sempurna. Perusahaan dengan produk yang tidak dapat ditiru pesaingnya dengan sempurna telah memiliki nilai tambah dalam mencapai keunggulan bersaing,
 (4) Harus tidak ada strategi yang sama yang dapat menggantikan sumber daya. Jika tidak ada strategi yang dapat menggantikan sumber daya maka suatu perusahaan akan mencapai keunggulan bersaing tersendiri .

Berkualitas         :
Tinjauan kualitas pada semua aspek pembelajaran dengan komitmen untuk memenuhi persyaratan dan secara berkesinambungan melakukan peningkatan terhadap Sistem Manajemen Mutu.

Berdaya Saing    :
Setiap lulusan dibekali dengan sertifikat keahlian, kemampuan aplikasi teknologi informasi dan kemampuan berbahasa Inggris sehingga memiliki keunggulan bersaing dan mendapatkan kepercayaan dari institusi pengguna dan masyarakat.

Berbudi Pekerti Luhur :
Selain memiliki keunggulan bersaing dalam keilmuan dan profesi dikuatkan dengan keunggulan dalam pekerti yang luhur dalam memegang tugas dan tanggung jawab.



Keunikan sebagai Keunggulan
Berpijak pada realitas itulah, perguruan tinggi –lebih-lebih yang berstatus swasta- seyogianya memiliki strategi bersaing untuk menjaga eksistensinya. Karena, jika perguruan tinggi tidak memiliki strategi bersaing, maka akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas jumlah lulusan yang dihasilkan. Salah satu strategi bersaing yang dapat diterapkan pergurun tinggi adalah keunggulan kompetitif perguruan tinggi. Salah satunya adalah dengan memunculkan keunikan perguruan tinggi bersangkutan,
 misalnya Universitas Negeri Malang (UM) memiliki jargon “learning university”, yang akan terus berkomitmen menghasilkan yang memiliki keunggulan di bidang pendidikan dan pengajaran.  Universitas Brawijaya memiliki jargon world class entrepreneur university, yang bertekad untuk menghasilkan lulusan berkelas dunia yang memiliki mental entrepreneur. UIN Maliki Malang membangun keunggulan dengan cara menyelenggarakan pendidikan secara integratif, yakni memadukan tradisi perguruan tinggi dan pesantren, baik secara kelembagaan maupun kurikulumnya. Universitas Kanjuruhan mengusung jargon sebagai kampus multikulural, yang berupaya menjadi tempat belajar mahasiswa dari berbagai lintas suku, agama, dan daerah, dan keunikan-keunikan lainnya.
Dengan adanya “keunikan” sebuah perguruan tinggi yang juga merupakan identitas tersebut, membuat calon mahasiswa dan orang tua akan mudah dalam memilih dan menentukan perguruan tinggi yang akan dijadikan sebagai tempat belajarnya. Dengan keunggulan kompetitif, maka perguruan tinggi akan memudahkan dalam mengembangkan lembaga tesebut.

Menurut Porter, sebagaimana yang disadur oleh Nurdin (2008), menyatakan bahwa terdapat lima model yang dapat digunakan untuk menganalisis kompetitif suatu perguruan tinggi.
Pertama adalah berdirinya perguruan tinggi baru, baik negeri maupun swasta serta perguruan tinggi asing yang membuka cabang di suatu wilayah .
Kedua, kekuatan mahasiswa baru, baik yang baru lulus dari SMA/sederajat maupun yang telah bekerja.
Ketiga, ancaman produk pengganti, yaitu kursus/pelatihan yang setara pendidikan Diploma 1 atau Diploma 2 yang lebih mengedepankan praktik dengan porsi lebih besar dibanding teori.
Keempat, kekuatan tawar-menawar penyedia mahasiswa (pihak SMA/sederajat), dimana pihak SMA/sederajat melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi untuk merekomendasikan siswa lulusannya untuk mendaftarkan diri pada perguruan tinggi tersebut, serta melakukan kerjasama dalam bidang pendidikan yang mampu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
Kelima, persaingan diantara perguruan tinggi yang sudah ada .

Keunggulan perguruan tinggi sangat dibutuhkan, karena identitas suatu lembaga akan dikenal oleh masyarakat, yang mana mereka akan lebih mengenal brand image yang dimiliki oleh suatu lembaga. Salah satu brand image yang dimiliki oleh suatu perguruan tinggi, misalnya adalah kemampuan tentang tri bahasa, yaitu dalam kurikulum terdapat matakuliah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin. Sehingga lulusan dari perguruan tinggi akan mengusai tiga bahasa, dan imbasnya akan berpengaruh terhadap peluang lapangan pekerjaan, karena tidak ada perguruan tinggi tinggi lain yang mengajarkan tiga bahasa. Contoh yang lain adalah memberikan kemampuan terhadap mahasiswa dalam bidang teknologi informasi, yang mana mahasiswa diwajibkan untuk menguasai teknologi informasi serta mampu mengikuti ujian kompetensi yang diselenggarakan oleh Microsoft, sehingga jika mahasiswa lulus akan mendapatkan sertifikasi dari Microsoft dan sertifikat tersebut akan sangat berguna sekali dalam mencari lapangan pekerjaan. Karena secara kemampuan penguasaan teknologi, lulusan tersebut sudah tidak diragukan lagi.
Oleh karena itu, keunggulan kompetitif harus dimiliki oleh setiap perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswa. Yang nantinya akan memudahkan untuk mencapai tujuan dari setiap perguruan tinggi baik menjadi world class university, research university, maupun learning university, atau lainnya.(*)
Banyak lulusan dari perguruan tinggi baik itu negerti dan swasta yang tidak siap menghadapi dunia nyata atau dunia kerja. Persaingan yang ketat di tuntut untuk memiliki kempuan yang lebih bukan hanya kemampuan Hardskill (nilai IPK yang tinggi) tetapi kita di tuntut untuk memeliki sebuah kompetensi seorang lulusan.
http://pustakabakul.blogspot.com/2013/07/pengertian-keunggulan-kompetitif.html?m=1



Core business ( keunggulan indonesia dalam berbisnis )

Core business ( keunggulan indonesia dalam berbisnis )
-          Keunggulan bisnis diindonesia
-          Kenapa Keunggulan bisnis diindonesia tidak berkembang
-          Menurut keunggulan teori : absolut , kompetitif , komperatif .

Core Bisnis atau Bisnis inti dari suatu organisasi dalam suatu struktural, dimana dimaksudkan untuk mengekspresikan "inti" bahwa organisasi lebih "utama" sebagai aktivitas.
Kecenderungan perusahaan dalam pertengahan abad ke-20 untuk mendapatkan perusahaan baru dan membentuk konglomerat memungkinkan perusahaan untuk mengurangi biaya dana dan kendaraan investasi yang sama, dan kadang-kadang berikut tren populer di kalangan manajemen perusahaan berusaha untuk muncul saat ini dan mengesankan para investor.
Koperasi merupakan badan usaha bersama yang bertumpu pada prinsip ekonomi kerakyatan yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Berbagai kelebihan yang dimiliki oleh koperasi seperti efisiensi biaya serta dari peningkatan economies of scale jelas menjadikan koperasi sebagai sebuah bentuk badan usaha yang sangat prospekrif di Indonesia.
 Namun, sebuah fenomena yang cukup dilematis ketika ternyata koperasi dengan berbagai kelebihannya ternyata sangat sulit berkembang di Indonesia. Koperasi bagaikan mati suri dalam 15 tahun terakhir. Koperasi Indonesia yang berjalan di tempat atau justru malah mengalami kemunduran.

A.Permasalahan yang dihadapi koperasi di Indonesia
Secara umum, ada dua kelompok permasalahan yang dihadapi perkoperasian di Indonesia yang membuat koperasi di Indonesia menjadi sangat sulit untuk berkembang, yaitu:
a).Permasalahan yang berasal dari dalam organisasi koperasi
Masalah-masalah yang timbul karena kelemahan-kelemahan dari segi intern organisasi itu sendiri. Yang dapat dikatagorikan permasalahan yang datang dari dalam, yaitu:

1.Pengelolaan sebagian besar koperasi di Indonesia kurang profesional
Hal ini disebabkan karena sebagian besar para pengurus atau pengelola koperasi tersebut kurang berpendidikan, keahlian, keterampilan serta wawasan, sehingga si pengelola kurang tanggap, kurang fleksibel dalam membaca kesempatan serta peluang-peluang yang ada dan selalu ketinggalan dari Badan Usaha Umum lainnya. Adanya keterbatasan dana yang membuat koperasi kurang berkembang, sementara untuk menggunakan orang yang memiliki kualifikasi yang profesional koperasi kurang mampu untuk membayar gajinya. Dan biasanya, sebagian besar orang enggan mengambil pekerjaan ini karena faktor imbalannya yang kecil dengan tanggung jawab yang besar.

 2.Kurangnya Permodalan Koperasi
Kekurangan permodalan ini merupakan masalah yang umum sekali yang dihadapi oleh perkoperasian di Indonesia, dimana hal ini diantaranya disebabkan oleh:
a.Kelemahan dalam pembentukkan modal sendiri
Hal ini disebabkan karena usaha koperasi yang kurang berkembang dan SHU (Sisa Hasil Usaha) yang diperoleh juga kecil
b.Kelemahan dalam menarik sumber modal dari luar organisasi
Hal ini karena faktor kepercayaan dan kesadaran masyarakat serta partisipasi masyarakat yang masih kurang terhadap koperasi. Kekurangpercayaan dan partisipasi ini juga karena melihat perkembangan koperasi dan usahanya yang sangat lambat
c.Karena kurangnya inisiatif dan upaya sendiri dalam meningkatkan permodalan, hal ini karena kebiasaan ketergantungan pada subsidi atau sokongan permodalan yang berasal dari pemerintah.

3.Kurangnya efisiensi organisasi dan usaha koperasi
Kurangnya efisiensi organisasi karena sebagian besar anggota koperasi kurang berpendidikan, sehingga mengalami kesulitan dalam memberikan petunjuk atau pengarahan, serta pelaksanaan rapat anggota tidak efektif. Sedangkan, kurang efisiensinya usaha koperasi karena skala usaha yang kurang berkembang, sehingga dalam skala usaha yang terbatas tentunya tingkat biaya akan lebih besar.

4.Kurangnya inisiatif dan upaya sendiri dalam mengembangkan koperasi atau masih lemahnya sifat kemandirian bagi sebagian besar koperasi di Indonesia, yang disebabkan oleh faktor kebiasaan yang selalu tergantung pada subsidi, sokongan, ataupun bimbingan dan perlindungan pemerintah, dimana biasanya koperasi ini dijadikan oleh pemerintah sebagai penyalur bantuan (subsidi) pemerintah kepada masyarakat.

5.Tingkat pendidikan sebagian besar anggota koperasi masih rendah dan bahkan ada yang tidak berpendidikan atau buta huruf. Kelemahan ini akan menyulitkan bagi koperasi dalam hal:
a.Memberikan pengarahan-pengarahan ataupun petunjuk tertulis kepada anggota,
b.Sulit untuk menyelenggarakan rapat anggota dan penerapan prinsip-prinsip serta sendi dasar koperasi secara efektif dan optimal.



6.Masih banyak pengurus koperasi yang mempunyai Tugas Rangkap
Sebagian besar pengurus masih banyak yang mempunyai tugas rangkap seperti aparat pemerintah (pegawai negeri),guru, dll. Hal ini dapat menyebabkan pikiran tidak dapat dicurahkan secara optimal untuk kepentingan dalam pengembangan koperasi.

7.Diverisifikasi usaha yang kurang berkembang
Disebabkan karena kurangnya bervariasi, sehingga koperasi hanya terpaku pada hal yang sama (monoton), kelemahan ini menjadikan usaha koperasi selalu kalah dalam bersaing dengan badan usaha lain yang diverisifikasi usahanya lebih berkembang.

-          Menurut keunggulan teori : absolut , kompetitif , komperatif .

1. Teori Keunggulan Komparatif
Para Ekonom klasik, khususnya Adam Smith, David Richardo, dan John Stuart Mill, memberikan kontribusi besar bagi justifikasi ekonomi teoritikal terhadap perdagangan internasional.
Setiap Negara mempunyai kekhasan dalam corak dan ragam, serta kualitas dan kuantitas sumber dayanya, baik kekayaan alam, sumber daya manusia, penguasaan teknologi dan sebagainya. Perbedaan sumber daya antar Negara mendorong mereka untuk melakaukan spesialisasi. Kegiatan produksi barang dan kreasi jasa diarahkan untuk mengeksploitasi kelebihan ayang dimiliki, sehigga dapat dihasilkan barang dan jasa yang lebih efisien dan bermutu. Barang dan jasa ini akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagian akan diekspor ke Negara lain. Sebagai gantinya, akan diimpor barang dana jasa dari Negara lain yang memiliki keunggulan dalam memproduksi dan menciota barang dan jasa tersebut.
Uraian singkat diatas merupakan benang merah dari konsep yang diajukan mashab klasik, yang dikenal dengan teori keunggulan komparatif. Teori keunggulan komparatif pada dasarnya merupakan perluasan dari teori keunggulan “absolut” yang dikemukakan oleh Adam Smith,

2. keunggulan absolute merupakan kasus khusus dari dari keunggulan kkomparatif. Menurut teori keunggulan absolute, setiap Negara mampu memproduksi barang tertentu secara lebih efisien daripada Negara lain (dengan kata lain memiliki keunggulan absolute untuk barang tersebut) melalui spesialisasi dan pengelompokan kerja secara internasional (international division of labor).
Perdagangan diantara dua Negara, dimana masing-masing memilikii keunggulan absolute dalam produksi barang yang berbeda, akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keunggulan absolute bias diperoleh karena adanya perbedaan dalam factor-faktor seperti ikllim, kualitas tanah, anugerah sumber daya alam, tenaga kerja, modal, teknologi atau kewirausahaan (entrepreneurship).
Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa perdagangan yang saling menguntungkan tidak selalu menuntut setiap Negara harus memiliki keunggulan absolute disbanding mitra dagangnya. Misalnya Negara A memiliki keunggulan absolute pada produksi kalkulator dan TV disbanding Negara B. Bila semata-mata diasarkan pada teori keunggulan absolute, maka tidak akan ada perdagangan antar Negara A dan Negara B. karena jelas saja negar A tidak bersedia membeli barang apapun dari negar B yang harganya jauh lebih mahal.
Penjelasan alternatif atas kasus ini adalah teori keunggulan komparatif yang dikembangkan oleh David Richardo. Menurut teori ini, sekalipun sebuah negar memiliki keunggulan absolute dalam produksi sebuah barang, tetapi selama nnegara yang lebih lemah memiliki keunggulan komparatif pada produksi salah satu barang tersebut , maka perdagangan tetap bisa dilakukan.
Contoh :
Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relative jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat , oleh karena itu akan lebih cocok jika bermain di industry pada modal (misalnya industry otomotif, industry barang- barang elektronik, dan sebgainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industry padat karya (misalnya industry sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).

3. Teori Keunggulan Kompetitif
Konsep ini dikembangkan oleh Michael E. Porter (1990) dalam bukunya berjudul “The Competitive Advantage of Nations”. Menurutnya terdapat empat atribut utama yang bisa membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan local berkompetisi sedemikian rupa, sehingga mendorong terciptanya keunggulan kompetitif
Sumber : allan's blog

•http://purwakartakab.bps.go.id/index.php?option=com_content&view=article&catid=49:koperasi&id=99:sejarah-koperasi&Itemid=30

Mengapa koperasi tidak berkembang


Mengapa koperasi tidak berkembang ,
Sebab kesalahan? Kelemahan ??
Koperasi merupakan badan usaha bersama yang bertumpu pada prinsip ekonomi kerakyatan yang berdasarkan atas asas kekeluargaan. Berbagai kelebihan yang dimiliki oleh koperasi seperti efisiensi biaya serta dari peningkatan economies of scale jelas menjadikan koperasi sebagai sebuah bentuk badan usaha yang sangat prospekrif .
Hanel (1985 ), sudah mengkritisi bahwa kegagalan koperasi di negara-negara berkembang disebabkan karena:
Dampak koperasi terhadap pembangunan yang kurang atau sangat kurang dari organisasi koperasi, khususnya karena koperasi tidak banyak memberikan sumbangan dalam mengatasi kemiskinan dan dalam mengubah struktur kekuasaan sosial politik setempat bagi kepentingan golongan masyarakat yang miskin.
Jasa-jasa pelayanan yang diberikan oleh organisasi koperasi seringkali dinilai tidak efisien dan tidak mengarah kepada kebutuhan anggotanya, bahkan sebaliknya hanya memberikan manfaat bagi para petani besar yang telah maju dan kelompok-kelompok tertentu.
Tingkat efisiensi perusahaan-perusahaan koperasi rendah ( manajemen tidak mampu, terjadi penyelewengan, korupsi, nepotisme dll ).
Tingkat ofisialisasi yang yang sering kali terlampau tinggi pada koperasi (khususnya koperasi pertanian ), ditandai dengan dukungan/bantuan dan pengawasan yang terlalu besar, struktur komunikasi dan pengambilan keputusan memperlihatkan sama seperti pada lembaga-lembaga birokrasi pemerintah, ketimbang sebagai suatu organisasi swadaya yang otonom, partisipatif dan berorientasi pada anggota.
Terdapat kesalahan-kesalahan dalam memberikan bantuan pembanguan internasional dan khususnya kelemahan-kelemahan pada strategi pembangunan pemerintah yang diterapkan untuk menunjang organisasi koperasi.

Hanel merumuskan beberapa rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan koperasi yang memiliki tugas utama dalam mempromosikan anggotanya sebagai berikut:
Organisasi koperasi harus berusaha secara efisien dan produktif, artinya koperasi harus memberikan manfaat dan menghasilkan potensi peningkatan pelayanan yang cukup bagi anggotanya.
Organisasi koperasi harus efisien dan efektif bagi anggotanya, artinya bahwa setiap anggota akan menilai bahwa manfaat yang diperoleh karena berpartisipassi dalam usaha bersama merupakan kotribusi yang lebih efektif dalam mencapai kepentingan dan tujuan-tujuannya ketimbang hasil yang mungkin diperoleh dari pihak lain
Dalam jangka panjang, kopersi harus memberikan kepada setiap anggotanya suatu saldo positif antara pemanfaatan ( insentif ) yang diperolehnya dari koperasi dan sumbangan ( kontribusi ) yang diberikan kepada koperasi.
Koperasi harus mampu menghindari terjadinya situasi dimana kemanfaatan yang dihasilkanoleh uaha bersama/koperasi menjadi milik umum, artinya koperasi harus mampu mencegah timbulnya dampak-dampak dari penumpang gelap ( free raider ) yang terjadi karena usaha koperasi mengarah kepada usaha bukan anggota.
Kondisi sepuluh tahun setelah itu, pada dasawarsa 90-an, agaknya kondisi koperasi era 80-an masih belum banyak mengalami perubahan seperti yang dikemukakan oleh Yuyun Wirasasmita ( 1991), yang masih mendapatkan koperasi dengan kondisi:
1. Fungsi dan tujuan koperasi tidak seperti yang diinginkan para anggotanya.
2. Struktur organisasi dan pengambilan keputusan sukar dimengertidan dikontrol anggota dan dipandang terlalu rumit bagi anggota.
3. Tujuan koperasi dipandang dari sudut pandang anggota sering dianggap terlalu luas atau terlalu sempit
4. Karyawan koperasi dan para manajernya dalam menjalankan perusahaan koperasi sangat tanggap terhadap arahan pengurus dan atau pemerintah tetapi tidak tanggap terhadap arahan anggota.
5. Fasilitas koperasi terbuka juga bagi non anggota sehingga tidak ada perbedaan manfaat yang diperoleh anggota dan non anggota.

http://adityagumay.blogspot.com/2009/10/epenyebab-kegagalan-efisiensi-koperasi.html?m=1